Rabu, 28 Maret 2018

DASAR HUKUM PENDIDIKAN KESETARAAN Beberapa Landasan Hukum Pendidikan Kesetaraan • UNDANG-UNDANG DASAR 1945 • UNDANG-UNDANG Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. • PERATURAN PEMERINTAH o No. 73 tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah. o No. 38 tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan. o No. 39 tahun 1993 tentang Peran Masyarakat dalam Pendidikan Nasional. o No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan • INTRUKSI PRESIDEN No. 1 tahun 1994t entang Pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar. • KEPUTUSAN MENTRI o Kep. Mendikbud No. 0131/U/1994 tentang Program Paket A dan Paket B o Pernyataan Mendiknas pada 22 Juni 2000 tentang pelaksanaan Paket C. o Kep. Mendiknas No. 0132/U/2004 tentang Paket C. • DEKLARASI DAKKAR: Education for All (Dakar, 2000) 1. UNDANG-UNDANG DASAR 1945 PEMBUKAAN UUD’45 " …Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan Kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan Kemerdekaan, Perdamaian abadi dan keadilan sosial, ….." PASAL 28B AYAT 1 “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan mendapatkan mafaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya demi kesejahteraan umat manusia” 2. UNDANG-UNDANG RI TAHUN 2003 SISDIKNAS PASAL 5 ; AYAT (1,5) 1) Setiap Warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. 5) Setiap Warga Negara berhak mendapatkan kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat. PASAL 13 AYAT (1) 1) Jalur Pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. 3. UNDANG-UNDANG RI TAHUN 2003 SISDIKNASPASAL 26; AYAT (1,3,6): 1) Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah dan atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. 2) Pendidikan non formal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, sertapendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. 3) Hasil pendidikan non formal dapat dihargai setara dengan hasilprogram pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional penilaian. 4. DEKLARASI DAKKAR 1. Memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak dini usia, terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung. 2. Menjamin bahwa menjelang tahun 2015 semua anak, khususnya anak perempuan, anak-anak dalam keadaan sulit dan mereka yang termasuk minoritas etnik, mempunyai akses dan menyelesaikan pendidikan dasar yang bebas dan wajib dengan kualitas baik. 3. Menjamin bahwa kebutuhan belajar semua manusia muda dan orang dewasa terpenuhi melalui akses yang adil pada program-program belajar dan kecakapan hidup (life skills) yang sesuai. 4. Mencapai perbaikan 50% pada tingkat keniraksaraan orang dewasa menjelang tahun 2015, terutama bagi kaum perempuan, dan akses yang adil pada pendidikan dasar dan berkelanjutan bagi demua orang dewasa. 5. Menghapus disparitas gender dalam pendidikan dasar dan menengah menjelang tahun 2005 dan mencapai persamaan gender dalam pendidikan menjelang tahun 2015 dengan suatu fokus jaminan bagi perempuan atas akses penuh dan sama pada prestasi dalam pendidikan dasar dengan kualitas yang baik. 6. Memperbaiki semua aspek kualitas pendidikan dan menjamin keunggulannya, sehingga hasil-hasil belajar yang diakui dan terukur dapat diraih oleh semua, terutama dalam keaksaraan, angka dan kecakapan hidup (life skills) yang penting. Program Pendidikan Kesetaraan Apakah Program Pendidikan Kesetaraan ? Pendidikan kesetaraan merupakan pintu masuk bagi praktisi homeschooling yang ingin mengintegrasikan pendidikan anak-anaknya dengan sistem pendidikan nasional yang diterapkan di Indonesia. Pendidikan kesetaraan meliputi program Paket A setara SD, Paket B setara SMP, dan Paket C setara SMA. Definisi setara adalah “sepadan dalam civil effect, ukuran, pengaruh, fungsi, dan kedudukan.” Ketentuan mengenai kesetaraan ini diatur dakan UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 26, ayat (6): “Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.” Paket-paket pendidikan kesetaraan dirancang untuk peserta didik yang berasal dari masyarakat yang kurang beruntung, tidak pernah sekolah, putus sekolah dan putus lanjut, serta usia produktif yang ingin meningkatkan pengetahuan dan kecakapan hidup, dan warga masyarakat lain yang memerlukan layanan khusus dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai dampak dari perubahan peningkatan taraf hidup, ilmu pengetahuan dan teknologi. Departemen Pendidikan Nasional telah menetapkan tiga pilar kebijakan Pembangunan Pendidikan beserta indikator kinerja kuncinya. Ketigapilar kebijakan tersebut adalah: 1. Pemerataan dan perluasan akses pendidikan, 2. Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing, dan 3. Penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan pencitraan publik. Untuk perluasan akses pendidikan non-formal kesetaraan, pemerintah telah membentuk Direktorat Pendidikan Kesetaraan yang tadinya berupa sub – direktorat pada Direktorat Pendidikan Masyarakat, dikukuhkan melalui Program pendidikan kesetaraan telah berperan penting dan sangat signifikan dalam memberikan layanan pendidikan bagi mereka yang putus sekolah, anak-anak yang kurang mampu, anak-anak dari etnis minoritas, anak-anak di daerah terpencil, anak-anak jalanan, dan peserta didik dewasa. a. Pengertian Dasar • Pendidikan Kesetaraan merupakan pendidikan nonformal yang mencakup program Paket A setara SD/MI, Paket B setara SMP/IMTs, dan Paket C setara SMA/MA dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan, keterampilan fungsional, serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional peserta didik. • Hasil pendidikan nonformal dapat sihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan (UU No 20/2003 Sisdiknas Psl 26 Ayat (6). • Setiap peserta didik yang lulus ujian kesetaraan Paket A, Paket B, atau Paket C mempunyai hak eligibilitas yang sama dan setara dengan pemegang ijazah SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA untuk dapat mendaftar pada satuan pendidikan yang lebih tinggi. Status kelulusan Paket C mempunyai hak eligibilitas yang setara dengan pendidikan formal dalam memasuki lapangan kerja b. Tujuan Pendidikan Kesetaraan • Memperluas akses Pendidikan Dasar 9 tahun melalui jalur Pendidikan Non formal Progam Paket A dan Paket B. • Memperluas akses Pendidikan Menengah melalui jalur Pendidikan Nonformal Progam Paket C. • Meningkatkan mutu, relevansi dan daya saing Pendidikan Kesetaraan program Paket A, B dan C. • Menguatkan tata kelola, akuntabilitas dan citra publik terhadap penyelenggaraan dan lulusan Pendidikan Kesetaraan. c. Standar Kompetensi • Standar kompetensi lulusan yang ingin dicapai sama, perbedaannya pada proses pembelajaran yang menekankan pada kemampuan belajar mandiri setara memberikan akan pengakuan terhadap pengetahuan dan kecakapan hidup yang diperoleh seseorang baik secara secara mandiri atau pun dari nara sumber lain melalui sistem tes pengakuan (tes penempatan). • Kecerdasan lain disamping kecerdasan logika- matematika (cerdas bahasa,cerdas alam, cerdas musik, cerdas ruang/gambar, cerdas kinestetika, cerdas intrapersonal) dapat dihargai. d. Sasaran Pendidikan Kesetaraan 1. Kelompok masyarakat usia 15 – 44 yang belum tuntas wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun. 2. Kelompok masyarakat yang membentuk komunitas belajar sendiri dengan flexi learning seperti komunitas sekolah rumah atau komunitas e- learning. 3. Penduduk yang terkendala ke jalur formal karena berbagai hal berikut: • Potensi khusus seperti pemusik, atlet, pelukis dll, • Waktu seperti pengrajin, buruh, dan pekerja lainnya, • Geografi seperti etnik minoritas, suku terasing dan terisolir, • Ekonomi seperti penduduk miskin dari kalangan petani, nelayan, penduduk kumuh dan miskin perkotaan, pekerja rumah tangga, dan tenaga kerja wanita, • Keyakinan seperti warga pondok pesantren yang tidak menyelenggarakan pendidikan formal (madrasah), bermasalah sosial/hukum seperti anak jalanan, korban Napza, dan anak Lapas. e. Sasaran Pencapaian • Sasaran utama pendidikan kesetaraan adalah peserta didik putus sekolah 3 tahun di atas usia sekolah. • Sebagian usia sekolah sebagai layanan khusus bila akses terhadap sekolah formal tidak ada. f. Karakteristik Sasaran Pendidikan Kesetaraan Kelompok Usia 15 – 44 tahun, yang terdiri dari dua kelompok : 1. Kelompok usia 13-15 tahun (3 tahun di atas usia SD/MI) terdapat 583.487 orang putus SD/MI, dan 1,6 juta lebih yang tidak sekolah SD/MI. 2. Kelompok usia 16-18 tahun terdapat 871.875 orang putus SMP/MTs, dan 2,3 juta lebih yang lulus SD/MI tetapi tidak melanjutkan ke SMP/MTs. g. Tempat Belajar Proses belajar mengajar dapat dilaksanakan di berbagai tempat yang sudah ada baik milik pemerintah, masyarakat maupun pribadi, seperti Pusat Pelatihan, balai desa, tempat peribadatan, gedung sekolah, rumah penduduk dan tempat-tempat lainnya yang layak. Sementara penyelenggaraan dilakukan oleh satuan-satuan PNF (Pendidikan Non Formal) seperti: Pusat kegiatan Belajar Masyakat (PKBM), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Kelompok Belajar, Organisasi keagamaan, Pusat Majelis Taklim, Sekolah Minggu, Pondok Pesantren, Organisasi sosial Kemasyarakatan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Yayasan badan hukum dan usaha, Unit Pelaksana Teknis (UPT), Diklat di departemen-departemen lain. h. Kualifikasi Akademik 1.Pendidikan minimal SPG/SGO/Diploma II dan yang sederajat untuk Paket A dan Paket B, dan Diploma III untuk Paket C. 2.Guru SD/MI untuk Paket A, guru SMP/MTs untuk Paket B dan guru SMA/M Aliyah untuk Paket C. 3.Tenaga lapangan Dikmas untuk latar belakang jurusan pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran. 4.Kyai, ustadz di pondok pesantren dan tokoh masyarakat dengan kompetensi yang sesuai dengan pelajaran yang berkaitan. 5.Nara Sumber Teknis (NST)dengan kompetensi/kualifikasi sesuai dengan mata pelajaran keterampilan yang diampunya, seperti penyuluh pertanian atau kelompok tani nelayan andalan (KTNA)

Senin, 19 Maret 2018





















Minggu, 18 Maret 2018

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 

Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. 

Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk  mencapai tujuan pendidikan nasional. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. 

Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. 

Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan. 
Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. 

Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan. Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.

Cara Membuat Aplikasi Pembelajaran Interaktif Berbasis Flash Menggunakan Ms. Powerpoint



Siapa bilang membuat bahan ajar berformat Flash susah?Enggak bangets..
Sekarang Anda bisa membuat presentasi dari Ms PowerPoint, namun seakan berasa Flash..Seru kan??? Gimana..gimana caranya??
Tenang, sabar..saya akan menjelaskan satu per satu..
Kalau anda tertarik dengan bahan ajar yang dibuat melalui macromedia flash, tetapi anda sendiri belum bisa membuatnya. Maka anda bisa membuatnya melalui Ms PowerPoint kemudian mengkonversikannya menjadi file SWF (Flash) dengan menggunakan program iSpring Presenter.
iSpring Presenter adalah  sebuah software add-in yang di design untuk membuat e-learning Flash content dari Presentasi anda menjadi format Flash yang siap anda gunakan. Jika Anda tertarik, anda bisa mendownload versi trialnya dari situs resminya di sini dan silahkan dipilih paket yang Anda sukai. Atau anda juga bisa mendownload di sini.
Jangan lupa menggunakan software Download Manager (boleh IDM, FLash Get,atau yang lain), sebab kapasitasnya besar. Habis itu ditinggal tidur dulu, ntar bangun-bangun udah kelar nDownloadnya..he..he..
Nah, jika sudah selesai downloadnya, install-lah program tersebut (yo mesti ae..he..he) dan semua fungsi iSpring gratis dapat Anda akses di PowerPoint Anda melalui toolbar standar. Diantaranya adalah Free transfer iSpring akurat PowerPoint animasi efek, transisi slide, hyperlink, embedded Flash film, audio, dan klip video ke dalam presentasi Flash (itu kalau anda sudah punya yang asli -alias tidak gratisan-). Kalau masih gratisan, yah..anda harus puas dengan fasilitas seperti yang terlihat di gambar di bawah ini. Tapi nggak pa-pa, yang penting udah punya kan???
Baik, Saya tidak akan menjelaskan cara instalasinya, karena anda pasti sudah bisa. Tetapi saya akan menjelaskan cara pemakaian program tersebut. OK?? Deal?? Deaaaaal…
1. Apabila software sudah terinstal, maka pada menu bar Ms PowerPoint anda akan terlihat seperti berikut :








2. Bukalah file presentasi yang sudah Anda miliki dan pilihlah icon Publish. Maka akan muncul kotak dialog berikut :

 Pada pilihan :
Presentation file : Isilah dengan nama file setelah di publish
Destination : Pilihlah Browse untuk menentukan lokasi penyimpanan file
Slide range : Pilih All slide
Beri ceklist pada pilihan di bawahnya, jika anda menginginkan pengaturan yang ada pada pilihan.
3. Selanjutnya Klik Publish, untuk memulai konversi dari pptxke swf.
4. Lihatlah hasilnya di folder yang sudah anda pilih padaDestination. Dan jalankan melalui media player classic atau GOM Player.
Jadi deh, Mudah kan??
Oh ya, bagi yang sudah menggunakan Ms PowerPoint 2010, bisa juga membuat file presentasinya menjadi format video. Hasilnya tidak jauh beda dengan menggunakan software di atas. Caranya :
1. Bukalah file pptx anda dan simpanlah ulang dengan mengeklik File, Save As
2. Pilihlah format file dengan Format Windows Media Video (*.wmv)
3. Klik Save
4. Bukalah file hasilnya dengan mendouble klik file tersebut, maka file presentasi anda akan langsung dijalankan.
Mudah bangeeeetttss…

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget